Di Forum INCOFIMS tingkat Dunia, Prof. Rokhmin Tekankan Kolaborasi Pentahelix Membangun Perikanan dan Kelautan

NUSANTARA, (CN).-
Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia yang juga anggota DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., mengatakan, sektor perikanan, kelautan dan bioteknologi pangan memegang peranan krusial dalam mendukung kesehatan global (good health and well-being) serta ketahanan pangan nasional maupun internasional.

Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2001-2004 ini menyebut besarnya potensi ekonomi maritim Indonesia yang diperkirakan mencapai US$ 1,4 triliun per tahun.

Angka tersebut setara dengan enam kali lipat APBN atau 1,2 kali produk domestik bruto (PDB) nasional, serta berpotensi menyerap hingga 45 juta tenaga kerja.

“Penting melakukan penguatan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku industri, masyarakat dan semua elemen, untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di bidang akuakultur, perikanan tangkap hingga industri bioteknologi kelautan,” ujar anggota Komisi IV DPR RI ini.

Pernyataan tersebut dikemukakan Prof. Rokhmin pada Rabu (2/9/2026), saat menjadi pembicara kunci dalam gelaran konferensi internasional 9th International Conference on Fisheries and Marine (INCOFIMS) dan 7th International Conference on Biotechnology and Food Science (INCOBIFS) di Ruang Sriwijaya, Gedung ASSEEC Tower, Kampus B Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Jawa Timur.

Konferensi internasional ini menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, praktisi dan pemangku kepentingan global untuk saling bertukar gagasan, memperkuat riset serta menghadirkan solusi inovatif berbasis teknologi demi keberlanjutan sektor perikanan maupun maritim dunia.

Menurut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University ini, kolaborasi pentahelix dalam membangun perikanan dan kelautan menjadi kunci utama untuk menjawab tantangan krisis ekologi global sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi maritim menuju Indonesia Emas 2045.

“Harus diakui, pemanfaatan potensi perikanan dan akuakultur nasional saat ini baru mencapai 20,4 persen. Maka, mari bersama kita wujudkan pengelolaan sumber daya maritim yang berkelanjutan, mandiri dan berdaya saing global,” tandas Dosen Teladan I Tingkat Nasional tahun 1995 ini.

Dalam pandangan Prof. Rokhmin, tantangan utama bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, penciptaan nilai tambah serta pemerataan hasilnya.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) 2026, produksi perikanan dan akuakultur global mencatatkan rekor baru sebesar 235 juta ton pada 2024.

“Akuakultur menjadi motor penggerak utama pertumbuhan pangan hayati. Indonesia sendiri mempertahankan posisinya sebagai produsen akuakultur terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Pada 2025, total produksi perikanan Indonesia mencapai 26,26 juta ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 6,27 miliar,” ungkapnya.

Meski produksi fisik dan kinerja ekspor terus meningkat, kontribusinya terhadap perbaikan gizi masyarakat dinilai belum maksimal. Tingkat stunting pada anak di Indonesia yang masih berada di angka 19,8 persen menunjukkan adanya ketimpangan antara ketersediaan pangan laut dengan aksesibilitas masyarakat terhadap nutrisi berkualitas.

Di samping itu, sektor akuakultur dan perikanan nasional masih dihadapkan pada sejumlah kendala struktural. Lebih dari 75 persen unit usaha perikanan di Indonesia masih berskala tradisional dengan tingkat produktivitas dan efisiensi yang rendah.

Keterbatasan modal, minimnya infrastruktur pendingin (cold chain), maraknya praktik Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing hingga ancaman perubahan iklim menjadi tantangan serius yang membutuhkan penanganan lintas sektor.

Selain membenahi sektor konvensional, Prof. Rokhmin mendorong pengembangan bioteknologi kelautan sebagai industri masa depan (emerging sector).

Sektor ini mencakup ekstraksi senyawa aktif untuk industri farmasi, kosmetik, pangan fungsional, pembuatan bahan hayati (biomaterials), pembersihan limbah melalui bioremediasi hingga pengembangan energi terbarukan berbasis mikroalga.

“Model pentahelix menjadi kerangka kerja ideal untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut. Akademisi berperan menghasilkan riset dan inovasi tepat guna, industri melakukan komersialisasi dan penyediaan rantai pasok, pemerintah memfasilitasi regulasi dan infrastruktur dasar, masyarakat bertindak sebagai pelaku utama, sementara media memperkuat pengawasan serta edukasi publik,” pungkasnya.(Noli/CN)

Ads Premium | 25 Agustus 2026
Exit mobile version