NUSANTARA, (CN).-
Pelabuhan Cargo Terminal 3 (CT-3) di Kota Sabang, Provinsi Aceh, berada di jalur penting Selat Malaka. Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan kawasan India, Timur Tengah dan Eropa, dengan pusat-pusat ekonomi Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan.
Secara teknis, Dermaga CT-3 memiliki panjang sekitar 400 meter dengan kedalaman kolam pelabuhan mencapai -10 meter LWS (Low Water Spring).
Dengan kondisi tersebut, pelabuhan ini mampu menampung kapal besar dengan panjang keseluruhan atau Length Overall (LOA) hingga 230 meter.
“Secara geografis, Sabang sejatinya lebih strategis dan kompetitif dibandingkan dengan Pelabuhan Singapura dan Port Klang serta Tanjung Pelepas di Malaysia, karena Sabang terletak di ujung barat Selat Malaka,” ujar Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., anggota Komisi IV DPR RI.
Hal tersebut dikemukakan Prof. Rokhmin saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Sabang, Provinsi Aceh, pada Jumat (24/4/2026).
Dalam kunjungannya, Prof. Rokhmin bersama Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, meninjau Pelabuhan CT-3 (Cargo Terminal-3). Pelabuhan CT-3 salah satu pusat logistik dan infrastruktur maritim strategis yang pernah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di ujung barat NKRI.
Pelabuhan Dermaga CT-3 yang dikelola Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) memiliki posisi penting dalam pengembangan ekonomi maritim Sabang.
Pelabuhan ini dirancang untuk mendukung aktivitas logistik, bongkar muat kargo, sandar kapal besar serta pelayanan kapal pesiar internasional.
Menurut Prof. Rokhmin, keunggulan lain Sabang adalah kondisi perairannya yang alami dan dalam, sehingga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pelabuhan berskala internasional tanpa kebutuhan pengerukan rutin yang besar.
Dalam perspektif Prof. Rokhmin, Kota Sabang dengan Pelabuhan Laut Dalam alamiahnya harus dilihat sebagai aset strategis nasional, bukan hanya aset daerah.
Posisi Sabang dalam peta perdagangan global, tidak hanya penting bagi negara-negara kawasan, tetapi sangat strategis dalam transportasi dan distribusi barang (komoditas dan produk) di dunia.
Data dari CSIS (Center for Strategic and International Studies) per 22 April 2026, selama ini Selat Malaka menjadi jalur transportasi laut dengan pangsa perdagangan maritim global terbesar di dunia mencapai 21,6 persen dari total perdagangan yang melintasi 11 jalur laut strategis di dunia. Selat Malaka, Selat Taiwan (21,2 persen), Selat Gibraltar (18,1 persen), Selat Bab el-Mandeb (16,5 persen), Terusan Suez (16,4 persen), Selat Dover (16,3 persen), Selat Korea (10,6 persen), Selat Hormuz (7,9 persen), Terusan Panama (6,7 persen), Selat Tsugaru (5,2 persen) dan Selat Bohai (5,1 persen).
Kota Sabang yang terletak di ujung barat Indonesia (Pulau Weh) berbatasan langsung di wilayah laut dengan 3 negara tetangga, yaitu Malaysia, Thailand dan India.
Wilayah ini sangat strategis karena dikelilingi Selat Malaka, Samudera Hindia dan Laut Andaman. Pulau Rondo, satu dari 9 pulau, yang merupakan bagian dari wilayah administrasi Pemerintahan Kota Sabang adalah pulau terluar di ujung barat NKRI.
Menurut Prof. Rokhmin, posisi geopolitik dan geoekonomi tersebut harus ditransformasikan menjadi keunggulan kompetitif yang nyata bagi Indonesia.
Sabang tidak boleh hanya menjadi wilayah lintasan, tetapi harus mampu menjadi simpul logistik, pusat transshipment, kawasan industri yang berdaya saing serta pintu masuk investasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia menekankan pentingnya revitalisasi pelabuhan yang terintegrasi dengan kawasan industri, sistem logistik modern dan manajemen rantai pasok terpadu atau Integrated Supply Chain Management System.
Dengan tata kelola profesional, konektivitas multimoda serta dukungan digitalisasi layanan pelabuhan, Pelabuhan CT-3 dapat menjadi pengungkit sumber pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran baru bagi Kota Sabang, Propinsi Aceh bahkan Indonesia.
Selain berfungsi sebagai terminal kargo, Dermaga CT-3 juga memiliki potensi besar sebagai titik sandar kapal pesiar internasional.
Hal ini dapat memperkuat sektor pariwisata bahari Sabang, membuka peluang bagi UMKM lokal, memperluas lapangan kerja serta meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat.
Pandangan tersebut disambut positif oleh Teuku Ardiansyah selaku Deputi Komersial dan Investasi BPKS Sabang, yang hadir mewakili Kepala BPKS Sabang, Iskandar Zulkarnaen.
Ia menyampaikan apresiasi atas perhatian Prof. Rokhmin terhadap masa depan pengembangan Pelabuhan CT-3 dan potensi ekonomi maritim Sabang.
Prof. Rokhmin menegaskan, dengan pengelolaan yang inovatif, profesional, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat, Sabang dapat kembali menjadi pusat pertumbuhan ekonomi maritim di ujung barat Indonesia.(Noli/CN)

















