Menghadapi El Nino, Prof. Rokhmin Minta Pemerintah Gercep Menangani Suplai Air untuk Pertanian

KABUPATEN CIREBON, (CN).-
Anggota DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., kembali mengingatkan kepada pemerintah untuk gerak cepat melakukan langkah-langkah dalam menghadapi el nino atau kemarau panjang yang ekstrim.

El nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang mengubah pola cuaca global.

Di Indonesia, fenomena ini memicu musim kemarau yang lebih kering dan panjang, dengan puncak kekeringan intensitas kuat yang berlangsung sejak Juli hingga Oktober.

“Kemarau panjang yang ekstrim sudah diprediksi sejak awal tahun 2026. Saat ini cuaca cukup panas, ditambah angin kencang. Kondisi kemarau sudah cukup ekstrim. Keadaan ini mengancam sektor pertanian,” ungkap anggota Komisi IV DPR RI ini.

Menurut Prof. Rokhmin, sejak awal pemerintah sudah diingatkan tentang ancaman el nino. Pemerintah harusnya sudah menyiapkan sumber-sumber air untuk irigasi pertanian.

“Bendungan, embung, water toren, jaringan pompa ditambah untuk suplai air sehingga sudah siap ketika kemarau panjang datang. Saya lihat kesiapannya kurang, pemerintah kurang gercep,” tandas politisi PDI Perjuangan ini, saat ditemui Rabu (22/7/2026) di sela kegiatan reses di Kabupaten Cirebon.

Prof. Rokhmin menilai pemerintah terlambat dalam menghadapi ancaman el nino. Sejatinya ada langkah lain yang bisa dilakukan yakni memberikan benih tanaman yang tahan terhadap cuaca kemarau.

“Sejak lama saya sudah menyarankan agar kita tidak terlalu bergantung pada beras. Beras karbohidrat tinggi dan berpotensi diabetes. Padahal, kita itu punya makanan yang lebih bagus yakni sagu. Sagu asalnya dari Indonesia, makanan lokal yang jauh lebih sehat,” lanjut Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2001-2004 ini.

Prof. Rokhmin menyebut, berdasarkan kajian FAO disebutkan tanaman sagu mampu bertahan dan tetap tumbuh dalam kondisi kemarau.

“Saya ingin masyarakat Indonesia tidak terlalu bergantung pada beras. Kita harus punya alternatif lain, ada sagu, sukun, talas dan lainnya. Makanan tadi jauh lebih sehat,” tegasnya.(Noli/CN)

Iklan Premium • 01 Juni 2026
Exit mobile version