KABUPATEN CIREBON, (CN).-
Kritikan tajam dilontarkan Ketua DPC GMNI Cirebon, Dika Agung Wahyudi, terhadap kepala daerah dan pejabat di Dinas Pendidikan (Disdik).
Ia mengaku heran para pejabat Disdik masih bisa tampil gagah memakai stelan jas dan senyum bangga di perayaan Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026.
“Harusnya malu, prihatin dan mengakui kegagalan. Faktanya masih banyak siswa yang belajar di ruang kelas yang rusak, fasilitas belajar seadanya dan akses teknologi yang tidak merata. Dunia pendidikan di Cirebon belum baik-baik saja,” tegasnya, Minggu (3/5/2026).
Menurut Dika, kondisi pendidikan di wilayah Cirebon masih jauh dari kata ideal. Peringatan Hari Pendidikan Nasional harusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana sistem pendidikan telah berjalan secara adil dan merata.
Hari Pendidikan Nasional diperingati sebagai refleksi pentingnya peran pendidikan dalam membangun bangsa Indonesia yang maju dan berdaya saing.
“Pendidikan seharusnya menjadi hak dasar seluruh rakyat. Namun, masih banyak sekolah di Cirebon yang belum memiliki fasilitas memadai. Ini tentu menjadi hambatan dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas,” ujar Bung Dika, sapaan akrabnya.
Meski pemerintah telah menggagas berbagai program peningkatan mutu pendidikan, seperti pembangunan sekolah unggulan dan peningkatan kualitas tenaga pendidik, realisasinya belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Selain persoalan fasilitas, Dika menilai kualitas pendidikan juga masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Ketimpangan akses pendidikan dan kurangnya dukungan terhadap tenaga pendidik berdampak pada rendahnya daya saing generasi muda di daerah.
Padahal, lanjut dia, pendidikan berkualitas menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan zaman, terutama di era digital yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan adaptif.
Dika mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya pemerintah daerah, untuk lebih serius dalam membenahi sektor pendidikan di Cirebon.
“Momentum Hardiknas harus menjadi refleksi bersama. Pendidikan tidak boleh hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak kepada rakyat,” tandasnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan dan masyarakat untuk menciptakan sistem pendidikan yang inklusif serta merata. Sehingga, sejalan dengan semangat tema nasional hardiknas.
Menutup pernyataannya, Dika mengajak generasi muda untuk terus belajar dan berjuang demi terciptanya pendidikan yang membebaskan dan mencerdaskan.
“Pendidikan adalah alat perjuangan. Dengan pendidikan yang baik, kita bisa membangun masa depan Cirebon dan Indonesia yang lebih adil dan maju,” pungkasnya.(Adit/CN)
