KABUPATEN CIREBON, (CN).-
Kabupaten Cirebon termasuk daerah darurat sampah. Setiap hari sampah mencapai 1200 ton, sementara yang tertangani baru 400 ton.
Terkait hal itu, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon mengajak para kuwu dan lurah untuk berperan aktif dalam mengatasi masalah sampah.
“Idealnya sampah itu selesai di tempat, di rumah dan di desa. Dulu kita diajarkan para orangtua, sampah itu dikumpulkan dan ditimbun di tanah. Kalau itu tidak dilakukan, baiknya sampah dikelola oleh kelompok warga atau pihak desa. Sebab, sampah juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk dan bila diolah bisa menghasilkan uang,” tandas Dede Sudiono, Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon.
Kepada media Caruban Nusantara pada Senin (27/4/2026), Dede Sudiono mengungkapkan, sejumlah desa sudah mampu mengelola sampah dengan baik dan menghasilkan uang.
“Desa Ciawigajah, Palimanan Barat, Gempol, Nanggela, Durajaya, Matangaji dan Girinata mampu mengolah sampah bisa menghasilkan uang. Ayo kita sinergi mengatasi sampah secara bersama,” ajak kadis LH.

Ia berharap desa-desa lain mengikuti untuk bisa mengolah sampah menjadi pupuk atau ada bank sampah yang menghasilkan uang.
Menurut Dede, persoalan utama terkait sampah adalah kesadaran setiap individu untuk hidup bersih. Bila setiap individu membuang sampah pada tempatnya dan dipilah antara organik dengan anorganik, itu sudah tindakan yang sangat baik.
“Masalahnya kesadaran membuang sampah pada tempatnya dan memilah, masih sangat rendah. Sampah dibuang sembarangan, di lahan kosong bahkan di sungai. Akibatnya, muncul tempat sampah liar. Catatan kami, sedikitnya ada 40 titik sampah liar. Sungai juga dipenuhi sampah. Padahal, itu berbahaya bagi warga sekitar sungai karena berpotensi banjir,” jelasnya.
Dede Sudiono juga meminta masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik dan beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan.
Kadis LH menekankan pentingnya gerakan bersama bersih-bersih lingkungan dan meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan.(Noli/CN)

















