NUSANTARA, (CN).-
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., tampil sebagai pembicara dalam Seminar Internasional Biosfer Laut dan Kepulauan bertema “Mengintegrasikan Pengelolaan Darat, Pesisir dan Laut untuk Ketahanan Iklim dan Cagar Biosfer yang Berkelanjutan”.
Seminar berlangsung di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada Jumat (6/11/2026).
Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin yang merupakan anggota Komisi IV DPR RI, mengatakan, cagar biosfer seharusnya tidak hanya dianggap sebagai kawasan konservasi yang diakui secara internasional.
“Yang lebih penting, seharusnya menjadi laboratorium hidup, model pembangunan wilayah terpadu dan alat praktis untuk menyeimbangkan keberlanjutan ekologis, kemakmuran ekonomi dan keadilan sosial,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2001-2004 ini.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, konektivitas ekologi antara daratan, area pesisir, pulau-pulau kecil dan ekosistem laut menentukan ketahanan lingkungan maupun kesejahteraan manusia.
Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini, menyebut, cagar biosfer bisa berkontribusi setidaknya pada lima prioritas pembangunan nasional.
Pertama, memperkuat keamanan ekologi. Hutan yang sehat, mangrove, padang lamun, terumbu karang dan ekosistem lainnya menyediakan layanan penting, termasuk penyimpanan karbon, perlindungan pantai, pengaturan air, pelestarian keanekaragaman hayati serta stabilitas ekosistem.
Kedua, memperkuat ketahanan pangan. Perikanan yang berkelanjutan, budidaya yang bertanggung jawab, agroforestri, industri manufaktur ramah lingkungan, dan sistem pertanian tahan iklim bisa meningkatkan ketersediaan pangan, gizi dan mata pencaharian lokal tanpa menguras sumber daya alam.
Ketiga, mempromosikan ekonomi biru dan hijau yang berkelanjutan. Cagar biosfer bisa memfasilitasi investasi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan di bidang perikanan, bioteknologi laut, pariwisata berkelanjutan, energi terbarukan dan usaha berbasis alam.
Keempat, memperkuat ketahanan iklim. Konservasi dan restorasi ekosistem alami bisa mengurangi risiko bencana dan memperkuat kapasitas adaptif komunitas yang menghadapi bahaya terkait iklim.
Kelima, mempercepat inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Cagar biosfer memberikan peluang untuk mengintegrasikan penelitian ekologi, pemantauan digital, pengetahuan tradisional, dan teknologi terapan ke dalam kebijakan pembangunan berbasis bukti.
Menurutnya, keberhasilan konservasi harus diukur tidak hanya dalam hektar tetapi juga dalam efektivitas pengelolaan, perbaikan ekologi, manfaat sosial ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
“Indonesia Emas sejati tidak bisa dicapai hanya melalui pertumbuhan ekonomi. Itu harus dibangun di atas ekosistem yang sehat, masyarakat yang sejahtera, keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan,” tegas Prof. Rokhmin.(Noli/CN)

















