Prof. Rokhmin : Sungguh Paradoks, Indramayu Lumbung Padi Nasional tapi Petaninya Belum Sejahtera

banner 120x600

AYUMAJAKUNING, (CN).-
Kabupaten Indramayu dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional dan daerah penghasil beras terbesar di Indonesia.

Produksi gabah kering giling (GKG) Indramayu secara konsisten mencapai angka tertinggi secara nasional, berkisar antara 1,3 juta hingga 1,7 juta ton per tahun.

banner 325x300

Meski dikenal lumbung padi nasional dengan hasil panen berlimpah, petani Indramayu justeru masih banyak yang hidupnya belum sejahtera.

“Ini sungguh paradoks, pertanian di Indramayu yang dikenal salah satu lumbung padi nasional, tetapi masih menghadapi persoalan kesejahteraan petani,” ujar Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., anggota DPR RI.

Hal tersebut disampaikan Prof. Rokhmin yang merupakan Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2001-2004, dalam pertemuan bersama Asosiasi Masyarakat Tani Padi Indonesia (AMARTA PADI) Indramayu.

AMARTA PADI mengembangkan inovasi pertanian melalui sekolah lapangan, laboratorium lapangan, pemuliaan benih mandiri dan penerapan sistem pertanian berbasis agroekologi.

“Indramayu merupakan salah satu penghasil padi terbesar di Indonesia. Tapi, mengapa petaninya masih menghadapi kemiskinan? Inilah paradoks yang harus kita selesaikan. Petani tidak boleh hanya menjadi penghasil pangan, tetapi juga harus menikmati kesejahteraan dari hasil kerja kerasnya,” tandas anggota DPR RI Daerah Pemilihan Cirebon-Indramayu ini.

Prof. Rokhmin yang duduk di Komisi IV DPR RI, mengapresiasi pendekatan tersebut sebagai langkah strategis untuk mengatasi berbagai persoalan pertanian, mulai dari pemadatan tanah (soil compaction), menurunnya kesuburan tanah, berkurangnya mikroorganisme tanah hingga ketergantungan terhadap input pertanian eksternal.

Namun, lanjut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University ini, keberhasilan inovasi agroekologi harus dibuktikan secara ilmiah dan terukur melalui peningkatan produktivitas, efisiensi biaya produksi, kelestarian lingkungan serta pendapatan dan kesejahteraan petani.

Prof. Rokhmin menyatakan kesiapannya untuk mendorong pengembangan inovasi agroekologi ke tingkat nasional apabila terbukti mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, memperbaiki kualitas lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

“Transformasi pertanian Indonesia harus bergerak dari sekadar mengejar peningkatan produksi menuju pembangunan pertanian yang produktif, efisien, berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, ramah lingkungan serta menyejahterakan petani,” imbuh politisi PDI Perjuangan ini.(Noli/CN)

banner 400x150

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *