Dalam Forum Internasional ICFA di Malaysia, Prof. Rokhmin Tegaskan Indonesia Bakal Kaya dari Sektor Kelautan dan Perikanan

banner 120x600

INTERNASIONAL, (CN).-
Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) yang saat ini anggota DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., mengungkapkan, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 77 persen adalah laut (6,4 juta km²), 23 persen darat (1,9 juta km²), 17.504 pulau dan garis pantai 108.000 km terpanjang kedua setelah Kanada.

Potensi produksi akuakultur Indonesia mencapai 100,06 juta ton per tahun, budidaya laut (mariculture) potensi lahan mencapai 24 juta hektare, tambak payau (brackishwater) seluas 2,88 juta hektare dan air tawar potensinya lebih dari 2,83 juta hektar.

banner 325x300

Dari 2012 hingga 2024, Indonesia konsisten menjadi produsen akuakultur terbesar kedua di dunia setelah China. Pada 2024, produksinya 15,75 juta ton yang terdiri dari 9,85 juta ton rumput laut serta 5,9 juta ton ikan.

“Dari budidaya laut (mariculture) yang potensi lahan mencapai 24 juta hektare, baru dimanfaatkan181.000 hektare atau 0,75%. Masih ada 21,9 juta hektare yang bisa digarap. Untuk tambak payau (brackishwater) seluas 2,88 juta hektare, baru dipakai 29,2 persen. Air tawar dengan potensi lebih 2,83 juta hektare baru dipakai 7,48 persen. Indonesia bisa jadi negara kaya raya dengan memaksimalkan potensi-potensi yang ada pada sektor kelautan dan perikanan,” jelasnya.

Data tersebut disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan RI tahun 2001-2004 ini saat menjadi keynote speaker dan panelis dalam Global South Policy Forum pada ajang bergengsi bertajuk The 13th International Conference on Fisheries and Aquaculture (ICFA) di Miri, Sarawak, Malaysia, yang berlangsung 29–30 September 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University ini menyampaikan materi dengan tema “Praktik Terbaik Akuakultur Inovatif dan Sistem Manajemen Rantai Pasok Terintegrasi: Kunci untuk Akuakultur yang Produktif”.

Forum internasional ini diikuti para pakar kelautan dan perikanan, akademisi, pembuat kebijakan dan pemimpin industri perikanan global.

“Indonesia bisa menjadi raksasa untuk memproduksi komoditas konvensional, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperkuat kedaulatan pangan,” ujar anggota Komisi IV DPR RI ini.

Prof. Rokhmin menekankan, jika semua potensi ekonomi biru digarap maksimal maka nilainya cukup fantastis. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB University (CCMRS) menghitung 11 sektor ekonomi biru Indonesia memiliki nilai US$ 1,348 triliun atau sekitar Rp 22.000 triliun per tahun.

Angka itu setara 6 kali APBN 2024 (Rp 3.400 triliun) atau 1,2 kali PDB Nasional. Sektor terbesar adalah Budidaya Pesisir dan Laut (210 miliar US$), Energi dan Mineral (210 miliar US$), Industri dan Jasa Maritim (200 miliar US$), dan Industri Bioteknologi Kelautan (180 miliar US$). Sektor ini juga mampu menyerap 45 juta tenaga kerja atau 36 persen dari total angkatan kerja Indonesia.

Prof. Rokhmin menyebut, akuakultur mampu menyalip perikanan tangkap. Produksi hewan akuatik dari budidaya 103 juta ton, sedangkan tangkap 92 juta ton. Akuakultur kini menyumbang 53 persen total hewan akuatik dan lebih dari 59 persen pangan hewan akuatik dunia.

Dirinya menandaskan, ikan jauh lebih efisien dan ramah iklim. Budidaya ikan juga 89 persen lebih efisien dari sapi.

“Jejak karbonnya jauh lebih rendah. Emisi gas rumah kaca per 100 gram protein: sapi 25 kgCO2e, babi 6,5, ayam 4,5, sementara ikan budidaya hanya 1,6 kgCO2e. 15 kali lebih rendah dari sapi,” katanya

Prof. Rokhmin juga menyampaikan tiga klaster raksasa. Ekstraksi senyawa bioaktif laut jadi pangan fungsional, obat anti-kanker, kosmetik kolagen dari kulit nila dan ubur-ubur hingga bioplastik.

Kedua, rekayasa genetika untuk bibit unggul SPF, SPR, tumbuh cepat dan tahan iklim serta tanaman padi yang bisa ditanam di laut. Ketiga, bioremediasi lingkungan: bakteri pseudomonas putida untuk tumpahan minyak, kocuria palustris untuk sampah plastik dan enterobacter cloaceae untuk menyerap logam berat.

Ada pula potensi rumput laut yang lebih luar biasa. Laporan Global Seaweed 2023 menyebut pasar turunannya di 2030 akan mencapai US$ 11,8 miliar untuk biostimulan, bioplastik dan tekstil.

Indonesia yang pada 2023 memproduksi 10,7 juta ton rumput laut basah, masih mengekspor 66,61 persen dalam bentuk kering mentah, bukan olahan carrageenan. Padahal, nilai olahannya bisa Rp 192 triliun.

Alga juga bisa jadi BBM. Ada 13 spesies mikroalga Indonesia yang mengandung lemak hidrokarbon, 4 utama: nannochloropsis oculata (24%), scenedesmus (22%), chlorella (20%), dunaliella salina (15%). Alga ini bisa menyerap CO2 dari cerobong pabrik pembangkit listrik, tumbuh dilahan tandus gersang dan menghasilkan lipid untuk biodiesel serta pati untuk bioetanol maupun bahan bakar pesawat.(Noli/CN)

banner 400x150

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *