KOTA CIREBON, (CN).-
Stasiun Cirebon merupakan salah satu mahakarya sejarah perkeretaapian Indonesia. Di balik dinding kokoh berarsitektur Art Deco, Stasiun Cirebon menyimpan narasi sejarah yang kaya.
Dibangun oleh perusahaan kereta api kolonial Belanda, Staatsspoorwegen (SS), stasiun ini dirancang oleh arsitek ternama Pieter Adriaan Jacobus Moojen.
Berdiri kokoh melintasi zaman, kini Stasiun Cirebon menginjak usia 114 tahun. Sejak resmi beroperasi pada 3 Juni 1912, stasiun ikonik ini tidak sekadar menjadi saksi bisu perkembangan transportasi dan ekonomi, tapi terus bertransformasi menjadi pusat mobilitas modern yang menghubungkan jutaan manusia.
Desain Stasiun Cirebon sangat unik, memadukan unsur budaya lokal Cirebon dengan tren arsitektur barat masa itu dan memiliki struktur simetris dengan bentuk atap segitiga yang khas.
Manager Humas KAI Daop 3 Cirebon, Muhibbuddin menjelaskan, status Stasiun Cirebon sebagai bangunan Cagar Budaya membuat KAI berkomitmen penuh untuk menjaga keasliannya di tengah modernisasi zaman.
“Kami berkomitmen penuh menjaga kelestarian arsitektur aslinya. Di sisi lain, kami terus berinovasi untuk fasilitas dan layanan modern demi kenyamanan pelanggan,” ujarnya.
Sejak awal pembangunannya, stasiun ini memegang peran sangat vital karena menghubungkan jalur lintas Cikampek–Cirebon sepanjang 137 km, serta menjadi titik temu strategis antara jalur selatan (Purwokerto–Kroya) dan jalur utara menuju Batavia (Jakarta).
Jika dahulu menjadi pusat angkutan hasil bumi, kini Stasiun Cirebon menjelma sebagai urat nadi konektivitas antar-kota besar di Pulau Jawa, mulai dari Jakarta, Bandung, Semarang, Purwokerto hingga Yogyakarta.
Peran penting ini tercermin nyata dari lonjakan volume penumpang yang terus meningkat signifikan dalam empat tahun terakhir. Sepanjang 2023 hingga Mei 2026, Stasiun Cirebon tercatat telah melayani lebih dari 5,1 juta pelanggan.
“Tren pertumbuhan ini menjadi bukti nyata bahwa kereta api tetap menjadi pilihan utama masyarakat. Keberagaman budaya dan aktivitas sosial-ekonomi yang berdenyut di stasiun ini setiap harinya mempertegas posisinya sebagai pusat interaksi masyarakat,” tambah Muhibbuddin.
Syukuran
Dalam rangka memperingati HUT ke-114 Stasiun Cirebon, KAI Daop 3 Cirebon menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dihadiri Komisaris KAI Wisata, Yudhistira, Kepala Daerah Operasi 3 Cirebon, Sigit Winarto serta melibatkan Komunitas Cirebon History, Komunitas Pecinta KA IRPS Cirebon dan Edan Sepur Cirebon.
Kegiatan diawali dengan pemotongan tumpeng dan kue ulang tahun sebagai wujud syukur atas perjalanan panjang Stasiun Cirebon yang telah melayani masyarakat selama lebih dari satu abad, serta pemberian santunan kepada anak yatim dari Pondok Pesantren Tarbiyyatul Athfal, Benda Kerep, Kecamatan Argasunya, Kota Cirebon.
Selain seremoni peringatan, KAI Daop 3 Cirebon juga menghadirkan edukasi sejarah Stasiun Cirebon dan perkembangan perkeretaapian Indonesia, serta pengenalan berbagai profesi di lingkungan perkeretaapian.
Memasuki usia ke-114 tahun, Stasiun Cirebon membuktikan bahwa nilai sejarah dan tuntutan modernisasi bisa berjalan beriringan. Berfungsi sebagai simpul transportasi yang efisien, stasiun ini siap terus mendukung mobilitas masyarakat.
“Diusia 114 tahun, Stasiun Cirebon akan terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Kami ingin stasiun ini tetap menjadi kebanggaan warga Cirebon, sebuah tempat di mana sejarah masa lalu dirawat dan masa depan transportasi yang modern serta berkelanjutan diwujudkan,” pungkas Muhibbuddin.(Noli/CN)
