KOTA CIREBON, (CN).-
Cirebon sudah menjadi kota kuliner dan tujuan wisata bagi para wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan turis mancanegara.
Makanan khas Cirebon dari nasi jamblang, empal gentong, nasi lengko, docang, tahu gejrot dan sebagainya, jadi buruan wisatawan. Setiap weekend (Sabtu-Minggu), tempat kuliner dipadati pengunjung dari Bandung dan Jakarta atau kota lainnya.
Kafe dan tempat kopi juga tumbuh subur di banyak tempat. Setiap malam Minggu, anak-anak muda Cirebon memadati kafe dan tempat ngopi.
Kondisi ini membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon menyiapkan langkah penataan dan revitalisasi sejumlah kawasan. Salah satunya Pasar Pagi, akan dijadikan satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Upaya tersebut dilakukan untuk mengembalikan daya tarik Pasar Pagi sekaligus menjadikannya bagian penting dari kawasan wisata dan perdagangan yang terhubung dengan Kali Sukalila hingga Kalibaru.
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo didampingi Sekretaris Daerah, Iing Daiman meninjau langsung kondisi Kawasan Pasar Pagi dan Pusat Grosir Cirebon (PGC) pada Rabu, (2/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, wali kota melihat sejumlah potensi aset dan ruang yang dapat dikembangkan untuk mendukung aktivitas perdagangan dan ekonomi kreatif.
Menurut wali Kota, Perumda Pasar Kota Cirebon mulai melakukan sejumlah inovasi yang ke depan akan diterapkan secara bertahap di pasar-pasar lainnya.
“Beberapa inovasi yang dilakukan oleh Perumda Pasar mulai kita aplikasikan secara bertahap. Di Pasar Pagi, penataan berikutnya juga akan dilakukan oleh direksi yang baru,” ujarnya.
Kondisi pasar yang mengalami penurunan aktivitas dan pendapatan, perlu menjadi perhatian. Pemkot Cirebon melalui Perumda Pasar berkomitmen mencari langkah yang tepat agar geliat perdagangan kembali tumbuh.
“Dengan kondisi pasar saat ini, pendapatan para pedagang memang menurun. Pemerintah melalui Perumda Pasar akan membangkitkan kembali semuanya. Kita ingin kejayaan Pasar Pagi ini bisa kita kembalikan,” tandasnya.
Wali kota menilai, penataan Pasar Pagi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas jual beli, tetapi juga harus melihat potensi kawasan di sekitarnya.
Keberadaan Kali Sukalila dan Kalibaru menjadi bagian dari pengembangan kawasan yang diharapkan dapat menarik lebih banyak masyarakat untuk datang.
Salah satu konsep yang disiapkan adalah menghadirkan kawasan kuliner. Area di bagian belakang dan lantai dua akan dikembangkan menjadi ruang kuliner serta aktivitas kreatif lainnya.
“Ini salah satu inovasinya, kuliner. Kita coba kembangkan di bagian belakang dan lantai dua sebagai pusat kuliner dan kegiatan lainnya. Kita juga ingin menopang keberadaan Kali Sukalila dan Kalibaru,” ucapnya.
Selain kuliner, pemerintah juga akan menghidupkan kembali Pasar Pagi sebagai pusat oleh-oleh.
Konsep tersebut dinilai memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah Pasar Pagi yang selama ini dikenal sebagai salah satu tujuan masyarakat untuk mencari berbagai produk khas Cirebon.
“Bukan hanya pusat jajanan, tetapi juga pusat oleh-oleh. Mudah-mudahan ini bisa membangkitkan kembali Pasar Pagi sebagai pusat oleh-oleh,” tuturnya.
Penataan juga akan menyasar area parkir. Pemerintah memastikan fungsi lahan parkir akan dikembalikan sebagaimana peruntukannya.
Pedagang yang masih menggunakan area parkir untuk berjualan nantinya akan diarahkan masuk ke dalam area pasar yang telah disiapkan.
“Ruang parkir harus digunakan untuk parkir, bukan untuk berjualan. Masih ada beberapa ruang parkir yang digunakan untuk berdagang. Ini akan kita tertibkan. Para pedagang nanti kita masukkan ke dalam pasar, sehingga tidak lagi berjualan di lahan parkir,” tegasnya.
Wali kota mengajak masyarakat, khususnya para pedagang, untuk mendukung penataan. Keberhasilan membangkitkan kembali pasar tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan kerja sama seluruh pihak.
“Mudah-mudahan masyarakat juga memberikan support dan bisa berkolaborasi dengan Perumda Pasar untuk membangkitkan kembali seluruh pasar yang ada di Kota Cirebon,” tutupnya.(Noli/CN)

















