KOTA CIREBON, (CN).-
Fenomena El Nino super kuat memicu cuaca ekstrem berskala masif yang ditandai peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Hal tersebut berdampak pada musim kemarau yang lebih panas, kekeringan berkepanjangan dan ancaman krisis pangan
Kondisi itu pun bakal terjadi di Indonesia, sehingga seluruh masyarakat harus mewaspadai fenomena El Nino. BMKG mengingatkan Juli hingga September merupakan masa krusial dari cuaca ekstrem yang akan terjadi.
Terkait hal tersebut, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung menggelar rapat koordinasi bersama delapan pemerintah daerah dan BMKG Jawa Barat.
Rapat berlangsung di kantor BBWS Cimanuk Cisanggarung pada Kamis (27/7/2026). Rapat dipimpin Plh. Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, Arnilawati Dewi Rejeki.
Delapan pemerintah daerah (pemda) itu dari Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Sumedang, Majalengka, Kuningan, Garut dan Brebes. Semuanya merupakan daerah-daerah yang masuk dalam wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung. Dinas teknis yang ikut yakni dari Bapperida, BPBD, PUTR, Dinas Pertanian dan lainnya.
Dwi Yoga dari BMKG Jawa Barat, mengatakan, puncak El Nino diperkirakan pada Agustus. Semua pihak harus meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena El Nino.
Plh. Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, Arnilawati Dewi Rejeki didampingi Kabid OP, Martius menjelaskan, sejak pertengahan Juni 2026, pihaknya sudah memulai aksi dalam menghadapi musim kemarau dan El Nino.
“BBWS Cimanuk Cisanggarung melakukan identifikasi wilayah-wilayah terhadap kondisi ketersediaan air, baik air permukaan dan air tanah. Kami juga melakukan optimalisasi pengelolaan SDA, yaitu Optimalisasi operasi Tampungan Air (Waduk dan Situ),” papar mereka.
Kemudian, melakukan monitoring dan updating alokasi air real time harian, pengaturan pola tanam dan jadwal tanam pada daerah irigasi.
“Kami juga melakukan kesiapsiagaan ketersediaan sumber daya peralatan, yakni mobil tangki, mobil pompa, pompa air, pompa air tenaga surya. Pembuatan sumur bor dan penyiapan pompa air untuk tambahan supply air. Rehabilitasi jaringan irigasi di tahun anggaran 2026 melalui kegiatan Inpres nomor 2 tahun 2025 untuk Irigasi Air Permukaan dan Irigasi Air Tanah (JIAT),” pungkas mereka.(Noli/CN)
