NUSANTARA, (CN).-
Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja (kunker) spesifik ke Balai Diklat Kehutanan Rumpin Bogor, Jawa Barat, pada Selasa, (31/3/2026).
Pada kesempatan tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., memberi apresiasi terhadap kopi robusta olahan yang dipadukan dengan rempah-rempah.
Kopi olahan ini merupakan hasil kreativitas kelompok tani hutan di Jawa Barat.
Prof. Rokhmin yang merupakan Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2001-2004 ini mengatakan pentingnya memperkuat perhutanan sosial yang produktif, bernilai tambah dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
“Produk seperti ini menunjukkan masyarakat sekitar hutan tidak boleh lagi hanya berhenti pada penjualan komoditas mentah dengan nilai ekonomi rendah, tetapi harus didorong masuk ke tahapan hilirisasi di tingkat tapak agar mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar,” tandas politisi PDI Perjuangan ini.
Kunker spesifik Komisi IV DPR RI diikuti Dr. H. Abdul Kharis Almasyhari, S.E., M.Si., Dr. Ir. H. Agus Ambo Djiwa, M.P., Edoardus Kaize, S.S., Firman Soebagyo, S.E., M.H., Dr. Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si., Eko Wahyudi, Dr. Ir. Hj. Endang Setyawati Thohari Dess, M.Sc., Ir. Sumail Abdullah, Muhammad Habibur Rochman, S.E., Jaelani, S.IP., M.Si., Rina Sa’adah, Lc., M.Si., H. Johan Rosihan, S.T., serta Ibu Ellen Esther Pelealu, S.E..
Turut hadir Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Kehutanan, Drh. Indra E. Semiawan, M.Si., serta puluhan penyuluh kehutanan dari berbagai wilayah di Jawa Barat.
Prof. Rokhmin mengungkapkan, tantangan utama yang masih dihadapi petani dan kelompok tani hutan tidak semata soal produksi, tapi menyangkut standardisasi dan legalitas produk, seperti perizinan BPOM atau PIRT.
Selain itu, lanjutnya, tentang pengemasan yang lebih baik dan kompetitif, serta akses pasar yang lebih luas, baik ke ritel modern maupun pasar ekspor.
Prof. Rokhmin meminta pemerintah hadir secara nyata melalui pendampingan, pembinaan, fasilitasi perizinan, peningkatan kualitas kemasan hingga pembukaan jejaring pemasaran.
Dengan dukungan tersebut, produk lokal hasil perhutanan sosial diyakini dapat naik kelas, berdaya saing dan memberi dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Prof. Rokhmin meyakinkan, ketika rakyat sudah merasakan manfaat ekonomi dari hutan tanpa harus merusaknya, maka rakyat sendirilah yang akan menjadi penjaga utama kelestarian hutan.
“Inilah esensi ekonomi hijau yang inklusif: hutan tetap lestari, masyarakat sejahtera dan usaha lokal tumbuh kuat. Semangat itulah yang juga mewarnai kebersamaan dalam kunjungan kerja ini,” ujarnya.
Kehadiran seluruh pihak menjadi bagian penting dari komitmen bersama untuk mendorong penguatan UMKM berbasis perhutanan sosial, pemberdayaan petani hutan dan pengembangan produk lokal unggulan.
Kelompok tani hutan juga semakin dikenal luas, berdaya saing serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.(Noli/CN)
