Industri Ikan Hias Indonesia Bisa Meraih Kejayaan, Ini Strategi dari Prof. Rokhmin

banner 120x600

NUSANTARA, (CN).-

Anggota DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menegaskan, Indonesia memiliki harta karun hayati yang luar biasa disektor perikanan, khususnya ikan hias.

banner 325x300

Kekayaan yang ada ini menjadi potensi industri yang cukup besar untuk penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

“Indonesia diakui dunia sebagai pusat keanekaragaman ikan hias (biodiversitas tertinggi). Berdasarkan data yang ada, Indonesia memiliki potensi produksi lestari (maximum sustainable yield atau MSY) dan jumlah spesies (varietas) ikan hias terbesar di dunia,” jelas Prof. Rokhmin, pakar kelautan internasional yang saat ini duduk sebagai anggota Komisi IV DPR RI.

Hal ini disampaikan Prof Rokhmin dalam acara talkshow potensi dan peluang ikan hias yang digelar Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan pada Kementerian Kelautan dan Perikanan

Acara berlangsung Minggu (14/12/2025), di Gedung Exhibition Hall Raiser Ikan Hias Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Dalam sesi diskusi, Prof. Rokhmin yang merupakan Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2001-2004 memberikan pemaparan komprehensif mengenai masa depan industri ikan hias.

“Untuk menjadikan industri ikan hias sebagai sumber lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi rakyat, diperlukan arah kebijakan dan strategi yang komprehensif dari hulu ke hilir,” ujar Rektor Universitas UMMI Bogor ini.

Menurut Prof. Rokhmin, produksi ikan hias Indonesia terus meningkat. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen ikan hias terbesar kedua di dunia, setelah Jepang.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan ini menekankan pentingnya riset & SDM, teknologi budidaya modern, penurunan mortalitas serta mengadakan pelatihan dan sertifikasi nasional bagi pembudidaya.

“Bangun klaster atau desa ekspor di 5 provinsi utama dengan koperasi/BUMDes sebagai off-taker, didukung infrastruktur dasar dan pendampingan manajemen usaha,” katanya.

Ia juga menyampaikan tentang tata niaga dan logistik. Membentuk koridor logistik ikan hidup di bandara kunci, mempermudah perizinan-karantina lewat satu pintu digital serta mengembangkan marketplace digital ikan hias Indonesia.

“Jangan lupa dengan pasar dan branding. Memperkuat pasar utama sambil membuka pasar baru, menggunakan perwakilan RI sebagai duta dan membangun brand ‘Indonesian Sustainable Ornamental Fish’. Kemudian, menetapkan pedoman nasional kesejahteraan ikan, sertifikasi eco & welfare-friendly serta menerapkan kuota lestari dan traceability (keterlacakan) sampai ekspor untuk ikan hias laut,” paparnya.

Strategi lainnya yakni welcoming entrepreneur, menciptakan iklim investasi dan ease of doing business yang kondusif. Improving management, membangun manajemen terpadu “Indonesia Ornamental Fish Incorporated”.

Diskusi menghadirkan narasumber dari pemerintah dan pelaku industri. Sesi ini diperkaya pandangan dari Machmud (Plt. Direktur Jenderal PDSPKP KKP), Erwin Dwiyana (Direktur Pemasaran KKP) dan Sugeng Sudiarto, A.Pi, M.M (Direktur Manajemen Risiko – Badan Karantina).

Dari pihak swasta dan asosiasi, turut hadir Teguh sebagai Ketua INOFE (Indonesia Ornamental Fish Exporters) dan Joty Atmadjaja dari JBG Transhipping Service.

Sementara itu, perspektif riset dan inovasi diwakili Nurhidayat, S.Pi, M.Si., dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta masukan langsung dari komunitas diwakili oleh perwakilan komunitas channa Bogor dan Depok, yakni Helen dan Yuda Prawira.(Noli/CN)

banner 400x150

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *