INTERNASIONAL, (CN).-
Anggota DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menegaskan, sistem pangan global masih gagal dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia.
Meningkatnya kelaparan, kesenjangan gizi dan tekanan lingkungan yang mengancam kapasitas produksi adalah buktinya.
“Lebih dari 2,6 miliar orang di dunia tidak mampu membeli pola makan sehat, sementara lebih dari 500 juta jiwa diperkirakan akan mengalami kekurangan gizi kronis pada tahun 2030,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2001-2004.
Hal ini disampaikan Prof. Rokhmin saat menjadi pembicara utama pada KTT Global tentang Pertanian Berkelanjutan yang berlangsung 5-6 Desember di Hainan, Tiongkok.
Global Summit on Sustainable Agriculture merupakan forum tinggi dunia yang mempertemukan para menteri, diplomat, ilmuan, pengusaha industri, petani, nelayan dan inovator.
Lebih lanjut Rektor Universitas UMMI Bogor ini mengemukakan, saat kebutuhan masa depan menuntut peningkatan produksi pangan sebesar 50 persen tetapi produktivitas sistem pangan justru menurun, sebagian karena meningkatnya risiko iklim.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Bogor ini menekankan untuk mendesain ulang sistem pangan dunia agar lebih sehat, lebih inklusif dan berkelanjutan secara lingkungan.
Di hadapan para tokoh dunia, Prof. Rokhmin memaparkan bagaimana membangun sistem pangan yang bergizi, sehat, inklusif dan berkelanjutan demi menjamin ketahanan pangan dunia.
Menurut anggota Komisi IV DPR RI ini, perubahan iklim memperparah cuaca ekstrem, menekan hasil panen dan mengganggu stabilitas produksi pangan.
Industri agropangan global turut berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan dengan mendorong hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi lahan serta krisis air dunia.
“Industri pangan bahkan menghasilkan hampir sepertiga emisi gas rumah kaca global,” ungkap politisi PDI Perjuangan ini.
Prof. Rokhmin Dahuri menyerukan perlunya transformasi holistik dalam sistem pangan dunia. Ketahanan pangan tidak bisa hanya diukur dari jumlah kalori yang diproduksi, melainkan kualitas gizi yang tersedia dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ia menawarkan sejumlah langkah strategis, yakni memperkuat keragaman pangan dengan meningkatkan ketersediaan buah, sayuran, kacang-kacangan serta protein hewani yang diproduksi secara berkelanjutan.
Mendorong biofortifikasi dan pengembangan varietas tanaman kaya nutrisi. Mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan yang saat ini mencapai sepertiga dari total produksi dunia.
Mengintegrasikan kebijakan gizi dengan perencanaan pembangunan pertanian, akuakultur dan perikanan.
Prof. Rokhmin juga memandang pentingnya inklusivitas dalam sistem pangan global. Petani kecil, nelayan tradisional, perempuan, generasi muda dan komunitas adat harus diberdayakan agar dapat berpartisipasi aktif dalam rantai pangan dunia.
“Inklusivitas bukanlah amal, melainkan strategi. Ketika lebih banyak orang terlibat dan memperoleh manfaat dari ekonomi pangan, sistem pangan global akan menjadi lebih makmur, tangguh dan berkelanjutan,” tandasnya.
Prof. Rokhmin mengingatkan ketahanan pangan adalah fondasi keamanan manusia. “Ini adalah tanggung jawab moral, keharusan ekonomi dan kebutuhan lingkungan. Mari kita berkomitmen membangun sistem pangan global yang bergizi, sehat, inklusif dan berkelanjutan. Bersama kita dapat menciptakan dunia di mana sektor pangan tidak hanya memberi makan manusia, tetapi juga memperkuat komunitas dan melindungi planet ini,” pungkasnya.(Noli/CN)
