NUSANTARA, (CN).-
Anggota DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., mengatakan, Indonesia dapat mencapai swasembada beras pada tahun ini, dengan target produksi sekitar 34 juta ton dan konsumsi nasional berkisar 31 juta ton.
Capaian ini disebutnya sebagai era kebangkitan pertanian, sesuai prediksi sejak awal. Apresiasi patut diberikan kepada Menteri Pertanian beserta jajarannya.
Hanya saja, lanjut Prof. Rokhmin, capaian swasembada beras seharusnya dibarengi dengan tercapainya kesejahteraan petani.
Berdasarkan data BPS, ungkap Prof. Rokhmin, pendapatan petani rata-rata sekitar Rp 2,4 juta/bulan dan nasional sekitar Rp 2,7 juta/bulan. Sektor pertanian masih yang terendah dari sisi pendapatan.
“Kesejahteraan petani tidak boleh hanya dilihat dari NTP, tetapi juga dari real income (pendapatan riil). Merujuk data Bank Dunia, petani sejahtera berada di kisaran Rp 7,5 juta/bulan. Dengan pendapatan petani Rp 2,4 juta, ini PR bersama antara Kementerian Pertanian dan Komisi IV,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2001-2004 ini.
Hal ini disampaikan Prof. Rokhmin dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi IV DPR RI bersama Menteri Pertanian pada Senin (24/11/2025).
Raker dipimpin Ketua Komisi IV DPR RI,
Hj. Siti Hediati Soeharto, S.E. Dari Kementerian Pertanian dipimpin Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.
Dalam raker, anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Rokhmin menyampaikan sejumlah catatan penting. Mulai dari capaian swasembada beras, kesejahteraan petani, perlindungan lahan pertanian, hingga tata kelola sawit dan penanganan Satgas PKH–Danantara.
Prof. Rokhmin juga menyampaikan Nilai Tukar Petani (NTP) naik dari 119 menjadi 124,3, serta realisasi anggaran Kementan yang mencapai 72 persen pada Oktober dan diperkirakan 93,8 persen di Desember. Kondisi ini sudah prestasi baik dalam kriteria BPK.
Prof. Rokhmin mengingatkan swasembada pangan jangan berhenti hanya pada beras dan harus memperluas ke komoditas penting lain yakni jagung, kedelai, gula, dan daging.
“Saya optimistis dengan leadership Menteri Pertanian yang dibackup penuh Presiden Prabowo, target bisa dicapai,” ucap Guru Besar di IPB University ini.
Anggota DPR RI dari Dapil Jabar 8 ini mengemukakan, surplus beras tahun ini (sekitar 2 juta ton lebih) tidak terlepas dari faktor iklim. Data BMKG menunjukkan El Niño tahun ini pendek, musim kering juga pendek.
Karena itu, dirinya meminta agar Ketahanan Pangan menyiapkan jurus mitigasi jika ke depan El Niño lebih panjang, seperti tahun 2021–2022.(Noli/CN)

















