KOTA CIREBON, (CN).-
Musim kemarau 2026 diperkirakan mulai terjadi bulan April dan musim hujan lagi pada Januari 2027.
Ini artinya musim kemarau 2026 berlangsung cukup lama. Tidak hanya itu, musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panas.
Terkait hal itu, Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWSCC) mulai menyiapkan langkah-langkah strategis dalam menghadapi musim kemarau yang cukup lama.
Satu hal yang menjadi perhatian khusus BBWS Cimanuk Cisanggarung yakni kelangsungan sektor pertanian pada musim kemarau 2026.
Menurut Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro, S.T., M.M., M.T., pengguna air paling besar itu untuk irigasi. Sementara, air di bendungan dan embung belum bisa memenuhi kebutuhan untuk pertanian dalam waktu musim kemarau yang panjang.
“Persoalan yang terjadi pada musim kemarau tentu saja kekeringan, yang berdampak pada produksi padi. Kami dari BBWS Cimanuk Cisanggarung mulai menyusun langkah-langkah agar pertanian tetap terjaga. Salah satunya kami punya alat pompa air tenaga surya yang bisa dimanfaatkan saat musim kemarau,” ujarnya, Kamis (12/3/2025).
Keberadaan pompa air tenaga surya, lanjut dia, diharapkan bisa membantu kebutuhan air untuk pertanian. Hanya saja, alat yang ada baru 3 unit.
“Pompa air tenaga surya merupakan alat produksi dari kreasi kawan-kawan di BBWS Cimanuk Cisanggarung. Kami baru punya 3 unit, maka nanti akan dipinjamkan secara bergilir. Pompa air tenaga surya boleh dipinjam ke petani secara gratis. Kami hanya minta tolong alatnya dijaga dengan baik,” tandas Dwi Agus Kuncoro.
Ia berpendapat, untuk wilayah BBWS Cimanuk Cisanggarung idealnya ada 24 unit, sehingga cukup aman saat musim kemarau.
“Kita upayakan bisa membuat lagi mesin pompa air tenaga surya, tentu secara bertahap,” lanjutnya kepada para wartawan saat acara open mic.
Program open mic kali ini mengambil tema khusus, “Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Kemarau Panjang Tahun 2026”.
Lebih lanjut kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung mengatakan, koordinasi dan sinergistas harus dibangun dengan baik antara pemerintah daerah dalam menghadapi ancaman kekeringan pada musim kemarau 2026.
“Kami perlu bicara dengan para bupati dan wali kota, agar produksi padi tetap berjalan pada musim kemarau. Pada masa tanam 1 cukup aman, karena persediaan air di bendungan dan embung masih banyak. Masalah akan terjadi saat musim tanam 2 dan 3. Ini perlu ditangani bersama oleh para kepala daerah. Kami dari BBWS Cimanuk Cisanggarung siap bergerak bersama dengan para bupati dan jajaran teknis terkait persoalan ini,” pungkas dia.(Noli/CN)

















