Perlindungan Sumber Daya Hayati dan Sistem Karantina di Indonesia Harus Kuat, Ini Strategi yang Disampaikan Prof. Rokhmin

banner 120x600

NUSANTARA, (CN).-

Anggota DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., mengemukakan, Indonesia harus melakukan perlindungan sumber daya hayati dan memiliki sistem karantina yang kuat sehingga setara dengan negara maju.

banner 325x300

Untuk mewujudkan itu, perlunya sinergi menyeluruh antara pemerintah, kementerian/lembaga, sektor swasta dan berbagai elemen masyarakat.

Prof. Rokhmin menyampaikan strategi dalam perlindungan sumber daya hayati dan sistem karantina yang kuat.

“Kolaborasi total merupakan kunci sistem karantina yang kuat. Kemudian, sistem karantina sama seperti standar negara maju dengan ada arah besar yang harus dicapai. Capai middle income trap, ada tiga syarat untuk naik kelas. Langkah penting lainnya benchmarking global, bandingkan & tingkatkan,” ujar anggota Komisi IV DPR RI ini.

Hal penting dan strategis tersebut disampaikan Prof. Rokhmin dalam talkshow bertema “Sinergi Menjaga Sumber Daya Hayati, Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi” pada Sabtu (29/11/2025) di Jakarta.

Dalam paparannya, Prof. Rokhmin yang merupakan Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2001-2004 ini mengingatkan, penguatan sistem karantina tidak mungkin dicapai tanpa keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan.

“Saya apresiasi langkah Badan Karantina yang lebih partisipati, artinya sebelum membuat regulasil lebih dulu meminta masukan dari stakeholder. Bagi saya, ini sudah on the track untuk membangun ketahanan pangan dan perlindungan hayati yang modern,” kata Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan ini.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University ini mengusulkan agar sistem karantina Indonesia meniru standar negara maju.

“Bukan hanya dari regulasi, tetapi juga sisi infrastruktur, teknologi, integrasi data, koordinasi lintas lembaga dan kualitas sumber daya manusia,” lanjut Prof. Rokhmin.

Dalam pandangan pria kelahiran Gebang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat ini, transformasi penting dilakukan agar Indonesia mampu mencegah masuknya hama penyakit, melindungi biodiversitas serta menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.

Terkait middle income trap, menurut Prof. Rokhmin, ada tiga syarat mendasar yakni peningkatan produktivitas nasional, daya saing yang lebih tinggi serta pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Penguatan sistem karantina berperan langsung dalam meningkatkan daya saing Indonesia di sektor pangan, pertanian dan perdagangan global.

“Untuk benchmarking global, daya saing Indonesia harus diukur dan dibandingkan terus dengan negara lain yang sudah unggul. Dengan begitu, perumusan kebijakan karantina dapat diarahkan agar benar-benar menjawab tantangan global, bukan sekadar memenuhi prosedur administratif,” pungkasnya.(Noli/CN)

banner 400x150

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *